Kamis, 09 Juli 2009

Buku panduan ini berisikan konsensus pengelolaan dan pencegahan bagi penyandang diabetes

diabetes yang merupakan revisi konsensus pengelolaan
Diabetes Melitus (DM) di Indonesia hasil kesepakatan para pakar DM di Indonesia yang mulai
dirintis PB PERKENI sejak pertemuan tahun 1993 di Jakarta. Revisi buku konsensus 2006
adalah revisi ketiga kalinya, setelah revisi buku konsensus pertama tahun 1998 dan revisi
kedua tahun 2002. Mengingat sebagian besar penyandang diabetes adalah kelompok
DM tipe-2, konsensus pengelolaan ini terutama disusun untuk DM tipe-2, sedang untuk
kelompok DM tipe-1 dan pengelolaan diabetes pada kehamilan dibicarakan dalam buku
panduan tersendiri.
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan
angka insidens dan prevalensi DM tipe-2 di berbagai penjuru dunia. WHO memprediksi
adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar untuk tahun-tahun
mendatang. Untuk Indonesia, WHO memprediksi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta
pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan dari hasil penilitian
di berbagai daerah di Indonesia yang dilakukan pada dekade 1980 menunjukkan sebaran
prevalensi DM tipe-2 antara 0,8% di Tanah Toraja, sampai 6,1% yang didapatkan
di Manado. Hasil penelitian pada era 2000 menunjukkan peningkatan prevalensi yang
sangat tajam. Sebagai contoh penelitian di Jakarta (daerah urban) dari prevalensi DM
1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993 dan kemudian menjadi 12,8%
pada tahun 2001 di daerah sub-urban Jakarta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (2003) diperkirakan penduduk
Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa. Dengan prevalensi
DM pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2%, maka diperkirakan
pada tahun 2003 terdapat penyandang diabetes sejumlah 8,2 juta di daerah urban
dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk,
diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk yang berusia di atas
20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%)
maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 8,1 juta
di daerah rural. Suatu jumlah yang sangat besar dan merupakan beban yang sangat
berat untuk dapat ditangani sendiri oleh dokter spesialis/ subspesialis bahkan oleh semua
tenaga kesehatan yang ada. Mengingat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap
kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar,
semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, seharusnya ikut serta dalam usaha
penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan.
I. Pendahuluan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Dalam strategi pelayanan kesehatan bagi penyandang diabetes, yang menempatkan
pelayanan kesehatan primer sebagai ujung tombak, peran dokter umum menjadi sangat
penting. Kasus DM sederhana tanpa penyulit dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter
umum di pelayanan kesehatan primer. Penyandang diabetes yang berpotensi mengalami
penyulit DM perlu secara periodik dikonsultasikan kepada dokter spesialis penyakit dalam
atau dokter spesialis penyakit dalam konsultan Endokrin, Metabolisme dan Diabetes
di tingkat pelayanan kesehatan lebih tinggi di rumah sakit rujukan. Demikian pula
penyandang diabetes dengan glukosa darah yang sukar dikendalikan dan penyandang
diabetes dengan penyulit. Pasien dapat dikirim kembali kepada dokter yang biasa
mengelolanya setelah penanganan di Rumah Sakit Rujukan selesai.
Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup.
Dalam pengelolaan penyakit tersebut selain dokter, perawat, ahli gizi serta tenaga
kesehatan lain, peran pasien dan keluarga menjadi sangat penting. Edukasi kepada
pasien dan keluarganya guna memahami lebih jauh tentang perjalanan penyakit
DM, pencegahan, penyulit DM, dan penatalaksanaannya akan sangat membantu
meningkatkan keikutsertaan mereka dalam usaha memperbaiki hasil pengelolaan. Dalam
konteks ini keberadaan organisasi perkumpulan penyandang diabetes seperti PERSADIA,
menjadi sangat dibutuhkan, yang akan membantu meningkatkan pengetahuan mereka
tentang DM dan memikirkan kepentingan mereka sendiri semaksimal mungkin.
Untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang tepat guna dan berhasil guna serta
untuk menekan angka kejadian penyulit DM, diperlukan suatu standar pelayanan
minimal bagi penyandang diabetes. Penyempurnaan dan revisi secara berkala standar
pelayanan harus selalu dilakukan dan disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan
ilmu mutakhir, sehingga dapat diperoleh manfaat yang sebesar- besarnya bagi
penyandang diabetes.
Pendekatan penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 terbagi menjadi tiga tingkat:
q Penatalaksanaan Standar
Merupakan penatalaksanaan berdasar evidence-based dan cost-effective
yang dilakukan di negara-negara dengan dasar pelayanan kesehatan yang
sudah maju dan mengalokasikan porsi cukup besar untuk pembiayaan pelayanan
kesehatan pada anggaran negaranya. Penatalaksanaan standar seharusnya
tersedia bagi semua penyandang diabetes, dan semua sistem pelayanan
kesehatan sebaiknya dapat mencapai tingkat penatalaksanaan ini.
q Penatalaksanaan Minimal.
Penatalaksanaan minimal bertujuan untuk mencapai sebagian besar penyandang
diabetes. Dilakukan pada pusat pelayanan kesehatan dengan sumber daya
terbatas (obat-obatan, sumber daya manusia, teknologi dan prosedur).
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 3
q Penatalaksanaan Komprehensif
Merupakan penatalaksanaan yang memerlukan teknologi kesehatan yang
lengkap dan terkini bagi penyandang diabetes, dengan tujuan mencapai hasil
yang terbaik. Penatalaksanaan komprehensif pada umumnya dilakukan pada
pusat rujukan pelayanan kesehatan.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia
2006 ini menyediakan pendekatan praktis untuk mendukung implementasi
sistem perawatan yang evidence-based dan cost-effective pada kondisi
yang berbeda-beda.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
II.1. Denisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang
terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan
menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak
dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat
dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan
akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan
gangguan fungsi insulin.
II.2. Klasikasi
Klasifikasi DM dapat dilihat pada tabel 1.
II. Pengeloaan Diabetes Melitus Tipe 2
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 5
II.3. Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Diagnosis
tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan diagnosis
DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara
enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole
blood), vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan
angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan
untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan glukosa darah kapiler.
II.3.1. Diagnosis diabetes melitus
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti
tersebut di bawah ini.
q Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
q Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur
dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.
Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara. Pertama, jika keluhan
klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL
sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Kedua, dengan pemeriksaan
glukosa plasma puasa yang lebih mudah dilakukan, mudah diterima oleh
pasien serta murah, sehingga pemeriksaan ini dianjurkan untuk diagnosis
DM. Ketiga dengan TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa
lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma
puasa, namun memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan
berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan. Langkah
diagnostik DM dapat dilihat pada bagan 1.
Kriteria diagnosis DM untuk dewasa tidak hamil, dapat dilihat pada tabel-2.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka
dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT tergantung dari
hasil yang diperoleh.
q TGT : Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO
didapatkan glukosa plasma 2 jam setelah beban antara
140 – 199 mg/dL (7.8-11.0 mmol/L).
q GDPT : Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan
glukosa plasma puasa didapatkan antara 100 – 125 mg/dL
(5.6 – 6.9 mmol/L).
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994):
q 3 (tiga) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan
sehari-hari (dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan
kegiatan jasmani seperti biasa
q berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan,
minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan
q diperiksa kadar glukosa darah puasa
q diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa), atau 1,75 gram/kgBB
(anak-anak), dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu
5 menit
q berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan
2 jam setelah minum larutan glukosa selesai
q diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa
q selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat
dan tidak merokok
II.3.2. Pemeriksaan penyaring
Pemeriksaan penyaring ditujukan pada mereka yang mempunyai risiko
DM namun tidak menunjukkan adanya gejala DM.
Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan DM,
TGT maupun GDPT, sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat.
Pasien dengan TGT dan GDPT juga disebut sebagai intoleransi
glukosa, merupakan tahapan sementara menuju DM. Kedua keadaan
tersebut merupakan faktor risiko untuk terjadinya DM dan penyakit
kardiovaskular di kemudian hari.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 7
Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok yang memiliki salah
satu faktor risiko DM seperti dilihat pada halaman 33.
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar
glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila pada
pemeriksaan penyaring ditemukan hasil positif, maka perlu dilakukan
konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa atau dengan tes
toleransi glukosa oral (TTGO) standar. (Lihat skema langkah-langkah
diagnostik DM pada bagan 1).
Pemeriksaan penyaring untuk tujuan penjaringan masal (mass
screening) tidak dianjurkan mengingat biaya yang mahal, serta
pada umumnya tidak diikuti dengan rencana tindak lanjut bagi mereka
yang diketemukan adanya kelainan. Pemeriksaan penyaring juga
dianjurkan dikerjakan pada saat pemeriksaan untuk penyakit lain atau
general check-up.
Kadar glukosa darah sewaktu dan glukosa darah puasa sebagai patokan
penyaring dapat dilihat pada tabel 3.
Catatan :
Untuk kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan kelainan hasil,
dilakukan ulangan tiap tahun. Bagi mereka yang berusia >45 tahun
tanpa faktor risiko lain, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan
setiap 3 tahun.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Bagan 1. Langkah-langkah diagnostik DM dan gangguan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 9
II.4. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatnya kualitas hidup
penyandang diabetes.
II.4.1. Tujuan penatalaksanaan
q Jangka pendek: hilangnya keluhan dan tanda DM, mempertahankan
rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa
darah.
q Jangka panjang: tercegah dan terhambatnya progresivitas
penyulit mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati. Tujuan akhir
pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM.
q Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian
glukosa darah, tekanan darah, berat badan dan profil lipid, melalui
pengelolaan pasien secara holistik dengan mengajarkan perawatan
mandiri dan perubahan perilaku.
II.4.2. Langkah-langkah penatalaksanaan penyandang diabetes
II.4.2.1.`Evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama:
Evaluasi medis meliputi:
q Riwayat Penyakit
v gejala yang timbul, hasil pemeriksaan laboratorium terdahulu
termasuk A1C, hasil pemeriksaan khusus yang telah ada
terkait DM
v pola makan, status nutrisi, riwayat perubahan berat badan
v riwayat tumbuh kembang pada pasien anak/dewasa muda
v pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya secara
lengkap, termasuk terapi gizi medis dan penyuluhan yang
telah diperoleh tentang perawatan DM secara mandiri, serta
kepercayaan yang diikuti dalam bidang terapi kesehatan
v pengobatan yang sedang dijalani, termasuk obat yang
digunakan, perencanaan makan dan program latihan
jasmani
v riwayat komplikasi akut (KAD, hiperosmolar hiperglikemia,
hipoglikemia)
v riwayat infeksi sebelumnya, terutama infeksi kulit, gigi, dan
traktus urogenitalis
v gejala dan riwayat pengobatan komplikasi kronik (komplikasi
pada ginjal, mata, saluran pencernaan, dll.)
v pengobatan lain yang mungkin berpengaruh terhadap
glukosa darah
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
v faktor risiko: merokok, hipertensi, riwayat penyakit jantung
koroner, obesitas, dan riwayat penyakit keluarga (termasuk
penyakit DM dan endokrin lain)
v riwayat penyakit dan pengobatan di luar DM
v pola hidup, budaya, psikososial, pendidikan, status
ekonomi
v kehidupan seksual, penggunaan kontrasepsi dan kehamilan.
q Pemeriksaan Fisik
v pengukuran tinggi dan berat badan
v pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran tekanan
darah dalam posisi berdiri untuk mencari kemungkinan
adanya hipotensi ortostatik
v pemeriksaan funduskopi
v pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid
v pemeriksaan jantung
v evaluasi nadi baik secara palpasi maupun dengan stetoskop
v pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari
v pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat
penyuntikan insulin) dan pemeriksaan neurologis
v tanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM
tipe-lain
q Evaluasi Laboratoris/penunjang lain
v glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial
v A1C
v profil lipid pada keadaan puasa (kolesterol total, HDL,
LDL, trigliserida)
v kreatinin serum
v albuminuria
v keton, sedimen dan protein dalam urin
v elektrokardiogram
v foto sinar-x dada
q Tindakan Rujukan
v ke bagian mata bila diperlukan pemeriksaan mata lebih
lanjut
v konsultasi keluarga berencana untuk wanita usia produktif
v konsultasi terapi gizi medis sesuai indikasi
v konsultasi dengan edukator diabetes
v konsultasi dengan spesialis kaki (podiatrist), spesialis
perilaku (psikolog) atau spesialis lain sesuai indikasi
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 11
II.4.2.2. Evaluasi medis secara berkala
q Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam
sesudah makan sesuai dengan kebutuhan
q Pemeriksaan A1C dilakukan setiap (3-6) bulan
q Setiap 1 (satu) tahun dilakukan pemeriksaan:
v Jasmani lengkap
v Mikroalbuminuria
v Kreatinin
v Albumin / globulin dan ALT
v Kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan
trigliserida
v EKG
v Foto sinar-X dada
v Funduskopi
II.4.3. Pilar penatalaksanaan DM
1. Edukasi
2. Terapi gizi medis
3. Latihan jasmani
4. Intervensi farmakologis
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan
jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa
darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis
dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada
keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau
langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi
metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan
yang menurun dengan cepat, adanya ketonuria, insulin dapat segera
diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala
hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien,
sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara
mandiri, setelah mendapat pelatihan khusus.
II.4.3.1. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan
perilaku telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang
diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat.
Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku.
Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. Mengenai edukasi
ini akan dibahas lebih mendalam di bagian promosi perilaku sehat
di halaman 28.
II.4.3. 2. Terapi Gizi Medis
q Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan
secara menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas
kesehatan yang lain dan pasien itu sendiri).
q Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TGM sesuai
dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi.
q Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama
dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan
yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi
masing-masing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan
pentingnya keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis dan
jumlah makanan, terutama pada mereka yang menggunakan obat
penurun glukosa darah atau insulin.
A. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari:
Karbohidrat
q Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan
energi.
q Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan
q Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang
berserat tinggi.
q Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang
diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang
lain
q Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
q Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula,
asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted
Daily Intake)
q Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat
dalam sehari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan
selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan
kalori sehari.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 13
Lemak
q Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Tidak
diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.
q Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori
q Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak tidak
jenuh tunggal.
q Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak
mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain : daging
berlemak dan susu penuh (whole milk).
q Anjuran konsumsi kolesterol < 300 mg/hari.
Protein
q Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi.
q Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi,
dll), daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah
lemak, kacang-kacangan, tahu, tempe.
q Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan
protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan
energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi.
Natrium
q Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama
dengan anjuran untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih
dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1 sendok teh) garam
dapur.
q Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400
mg garam dapur.
q Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda,
dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium
nitrit.
Serat
q Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes
dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan,
buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat,
karena mengandung vitamin, mineral, serat dan bahan lain
yang baik untuk kesehatan.
q Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/1000 kkal/hari.
Pemanis alternatif
q Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis bergizi dan pemanis
tak bergizi. Termasuk pemanis bergizi adalah gula alkohol
dan fruktosa.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
q Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol,
sorbitol dan xylitol.
q Dalam penggunaannya, pemanis bergizi perlu diperhitungkan
kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori
sehari.
q Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang
diabetes karena efek samping pada lemak darah.
q Pemanis tak bergizi termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame
potassium, sukralose, neotame.
q Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman
(Accepted Daily Intake / ADI )
B. Kebutuhan kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
penyandang diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan
kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori / kg BB ideal,
ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yai tu jenis
kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dll.
Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang
dimodifikasi adalah sbb:
q Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
q Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita
di bawah 150 cm, rumus dimodifikasi menjadi :
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
BB Normal : BB ideal ± 10 %
Kurus : < BBI - 10 %
Gemuk : > BBI + 10 %
Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh.
Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus: IMT = BB(kg)/
TB(m2)
Klasifikasi IMT*
q BB Kurang <18,5
q BB Normal 18,5-22,9
q BB Lebih >23,0
v Dengan risiko 23,0-24,9
v Obes I 25,0-29,9
v Obes II >30
* : WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective:
RedeningObesity and its Treatment.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 15
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :
o Jenis Kelamin
v Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan
kalori wanita sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/
kg BB.
o Umur
v Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5%
untuk dekade antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk usia 60
s/d 69 tahun dan dikurangi 20%, di atas 70 tahun.
o Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
v kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas
fisik
v penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada
kedaaan istirahat, 20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30%
dengan aktivitas sedang, dan 50% dengan aktivitas sangat berat.
o Berat Badan
v Bila kegemukan dikurangi sekitar 20-30% ber-gantung kepada
tingkat kegemukan
v Bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan
untuk meningkatkan BB.
v Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan
paling sedikit 1000 - 1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200 -
1600 kkal perhari untuk pria.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi
dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%) dan sore (25%)
serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan
kepatuhan pasien, sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan
kebiasaan. Untuk penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain, pola
pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyertanya.
C. Pilihan Makanan
Pilihan makanan untuk penyandang diabetes dapat dijelaskan melalui
piramida makanan untuk penyandang diabetes (lihat pada lampiran 1)
II.4.3.3. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur
(3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu
pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan
kaki ke pasar, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
(lihat tabel 4). Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga
dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin,
sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani
yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti:
jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani
sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani.
Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa
ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat
dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalasmalasan.
II.4.3.4. Intervensi Farmakologis
Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah
belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani.
1. Obat hipoglikemik oral (OHO)
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan:
A. pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue):
sulfonilurea dan glinid
B. penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin,
tiazolidindion
C. penghambat glukoneogenesis (metformin)
D. penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase
alfa.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 17
A. Pemicu Sekresi Insulin
1. Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan
pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal
dan kurang, namun masih boleh diberikan kepada pasien
dengan berat badan lebih.
Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada
berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal
dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak
dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.
2. Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan
sulfonilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi
insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat
yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid
(derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat
setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat
melalui hati.
B. Penambah sensitivitas terhadap insulin
Tiazolidindion
Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome
Proliferator Activated Receptor Gamma
(PPAR-γ), suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak.
Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi
insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut
glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer.
Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal
jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi
cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada pasien yang
menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan
faal hati secara berkala.
C. Penghambat glukoneogenesis
Metformin
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi
glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki
ambilan glukosa perifer. Terutama dipakai pada penyandang
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
diabetes gemuk. Metformin dikontraindikasikan pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1,5 mg/dL)
dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan
hipoksemia (misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis,
renjatan, gagal jantung). Metformin dapat memberikan efek
samping mual. Untuk mengurangi keluhan tersebut dapat
diberikan pada saat atau sesudah makan.
D. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa
di usus halus, sehingga mempunyai efek menurunkan
kadar glukosa darah sesudah makan. Acarbose tidak
menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang
paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.
Mekanisme kerja OHO, efek samping utama, serta pengaruh
obat terhadap penurunan A1C dapat dilihat pada tabel 5,
sedangkan nama obat, berat bahan aktif (mg) per tablet, dosis
harian, lama kerja, dan waktu pemberian dapat dilihat pada
lampiran 2.
Cara Pemberian OHO, terdiri dari:
v OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara
bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat
diberikan sampai dosis hampir maksimal
v Sulfonilurea generasi I & II : 15 –30 menit sebelum makan
v Glimepirid : sebelum/sesaat sebelum makan
v Repaglinid, Nateglinid : sesaat/ sebelum makan
v Metformin : sebelum /pada saat / sesudah makan
v Penghambat glukosidase α (Acarbose) : bersama makan
suapan pertama
v Tiazolidindion : tidak bergantung pada jadwal makan.
2. Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan:
q Penurunan berat badan yang cepat
q Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
q Ketoasidosis diabetik
q Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
q Hiperglikemia dengan asidosis laktat
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 19
q Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
q Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA,
stroke)
q Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional
yang tidak terkendali dengan perencanaan makan
q Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
q Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Jenis dan lama kerja insulin
Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat
jenis, yakni:
q insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
q insulin kerja pendek (short acting insulin)
q insulin kerja menengah (intermediate acting
insulin)
q insulin kerja panjang (long acting insulin)
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
q insulin campuran tetap, kerja pendek dan menengah
(premixed insulin).
Jenis dan lama kerja insulin dapat dilihat pada lampiran
3.
Efek samping terapi insulin
q Efek samping utama terapi insulin adalah terjadinya
hipoglikemia.
q Penatalaksanaan hipoglikemia dapat dilihat dalam bab
komplikasi akut DM.
q Efek samping yang lain berupa reaksi imunologi terhadap
insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi
insulin.
Dasar pemikiran terapi insulin:
q Sekresi insulin fisiologis terdiri dari sekresi basal dan sekresi
prandial. Terapi insulin diupayakan mampu meniru pola
sekresi insulin yang fisiologis.
q Defisiensi insulin mungkin berupa defisiensi insulin basal,
insulin prandial atau keduanya. Defisiensi insulin basal
menyebabkan timbulnya hiperglikemia pada keadaan puasa,
sedangkan defisiensi insulin prandial akan menimbulkan
hiperglikemia setelah makan.
q Terapi insulin untuk substitusi ditujukan untuk melakukan
koreksi terhadap defisiensi yang terjadi.
q Terapi insulin dapat diberikan secara tunggal (satu macam)
berupa: insulin kerja cepat (rapid insulin), kerja pendek
(short acting), kerja menengah (intermediate acting),
kerja panjang (long acting) atau insulin campuran tetap
(premixed insulin).
q Pemberian dapat pula secara kombinasi antara jenis
insulin kerja cepat atau insulin kerja pendek untuk koreksi
defisiensi insulin prandial, dengan kerja menengah atau
kerja panjang untuk koreksi defisiensi insulin basal. Juga
dapat dilakukan kombinasi dengan OHO.
q Terapi insulin tunggal atau kombinasi disesuaikan dengan
kebutuhan pasien dan respons individu terhadap insulin,
yang dinilai dari hasil pemeriksaan kadar glukosa darah
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 21
harian.
q Penyesuaian dosis insulin dapat dilakukan dengan menambah
2-4 unit setiap 3-4 hari bila sasaran terapi belum
tercapai.
Cara Penyuntikan Insulin
q Insulin umumnya diberikan dengan suntikan di bawah kulit
(subkutan), dengan arah alat suntik tegak lurus terhadap
cubitan permukaan kulit.
q Pada keadaan khusus diberikan intramuskular atau intravena
secara bolus atau drip.
q Terdapat sediaan insulin campuran (mixed insulin) antara
insulin kerja pendek dan kerja menengah, dengan perbandingan
dosis yang tertentu. Apabila tidak terdapat sediaan
insulin campuran tersebut atau diperlukan perbandingan
dosis yang lain, dapat dilakukan pencampuran sendiri antara
kedua jenis insulin tersebut. Teknik pencampuran dapat
dilihat dalam buku panduan tentang insulin.
q Lokasi penyuntikan, cara penyuntikan maupun cara
penyimpanan insulin harus dilakukan dengan benar,
demikian pula mengenai rotasi tempat suntik.
q Apabila diperlukan, sejauh sterilitas penyimpanan terjamin,
semprit insulin dan jarumnya dapat dipakai lebih dari satu
kali oleh penyandang diabetes yang sama.
q Harus diperhatikan kesesuaian konsentrasi insulin (jumlah
unit/mL) dengan semprit yang dipakai (jumlah unit/mL dari
semprit). Dianjurkan dipakai konsentrasi yang tetap. Saat
ini yang tersedia hanya U100
3. Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan
dosis rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai
dengan respons kadar glukosa darah.
Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani,
bila diperlukan dapat dilakukan pemberian OHO tunggal atau
kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan OHO kombinasi,
harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai
mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah
belum tercapai, dapat pula diberikan kombinasi tiga OHO
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
dari kelompok yang berbeda atau kombinasi OHO dengan
insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di
mana insulin tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi
dengan kombinasi tiga OHO. (lihat bagan 2 tentang algoritma
pengelolaan DM tipe-2).
Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan
adalah kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja
menengah atau insulin kerja panjang) yang diberikan pada
malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut
pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik
dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja
menengah adalah 6-10 unit yang diberikan sekitar jam 22.00,
kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai
kadar glukosa darah puasa keesokan harinya.
Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa darah
sepanjang hari masih tidak terkendali, maka obat hipoglikemik
oral dihentikan dan diberikan insulin saja.
II.4.4. Penilaian hasil terapi
Dalam praktek sehari-hari, hasil pengobatan DM tipe 2 harus dipantau
secara terencana dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan jasmani
dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan
adalah:
II. 4.4.1. Pemeriksaan kadar glukosa darah
Tujuan pemeriksaan glukosa darah:
q Untuk mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai
q Untuk melakukan penyesuaian dosis obat, bila belum tercapai
sasaran terapi
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pemeriksaan
kadar glukosa darah puasa dan glukosa 2 jam posprandial secara
berkala sesuai dengan kebutuhan. Kalau karena salah satu hal
terpaksa hanya dapat diperiksa 1 kali dianjurkan pemeriksaan
2 jam posprandial.
II. 4.4.2. Pemeriksaan A1C
Tes hemoglobin terglikosilasi, yang disebut juga sebagai glikohemoglobin,
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 23
Bagan 2. Algoritma pengobatan DM tipe 2 tanpa disertai dekompensasi
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Bagan 3. Algoritma pemberian kombinasi insulin dan OHO
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 25
atau hemoglobin glikosilasi disingkat sebagai A1C, merupakan cara
yang digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu
sebelumnya. Tes ini tidak dapat digunakan untuk menilai hasil pengobatan
jangka pendek. Pemeriksaan A1C dianjurkan dilakukan minimal 2
kali dalam setahun.
II.4.4.3. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)
Untuk memantau kadar glukosa darah dapat dipakai darah kapiler.
Saat ini banyak dipasarkan alat pengukur kadar glukosa darah cara
reagen kering yang umumnya sederhana dan mudah dipakai. Hasil
pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat
dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan
dilakukan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Secara berkala,
hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan
dengan cara konvensional.
PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan insulin atau pemicu
sekresi insulin. Waktu pemeriksaan PGDM bervariasi, tergantung pada
terapi. Waktu yang dianjurkan adalah, pada saat sebelum makan, 2
jam setelah makan (menilai ekskursi maksimal glukosa), menjelang
waktu tidur (untuk menilai risiko hipoglikemia), dan di antara siklus tidur
(untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala),
atau ketika mengalami gejala seperti hypoglycemic spells. Prosedur
PGDM dapat dilihat pada tabel 6.
II.4.4.4. Pemeriksaan Glukosa Urin
Pengukuran glukosa urin memberikan penilaian yang tidak langsung.
Hanya digunakan pada pasien yang tidak dapat atau tidak mau
memeriksa kadar glukosa darah. Batas ekskresi glukosa renal rata-rata
sekitar 180 mg/dL, dapat bervariasi pada beberapa pasien, bahkan
pada pasien yang sama dalam jangka waktu lama. Hasil pemeriksaan
sangat tergantung pada fungsi ginjal dan tidak dapat dipergunakan untuk
menilai keberhasilan terapi.
II.4.4.5. Penentuan Benda Keton
Pemantauan benda keton dalam darah maupun dalam urin cukup
penting terutama pada penyandang DM tipe-2 yang terkendali buruk
(kadar glukosa darah > 300 mg/dL). Pemeriksaan benda keton juga
diperlukan pada penyandang diabetes yang sedang hamil.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Tes benda keton urin mengukur kadar asetoasetat, sementara benda
keton yang penting adalah asam beta hidroksibutirat. Saat ini telah dapat
dilakukan pemeriksaan kadar asam beta hidroksibutirat dalam darah
secara langsung dengan menggunakan strip khusus. Kadar asam beta
hidroksibutirat darah < 0,6 mmol/L dianggap normal, di atas 1,0 mmol/L
disebut ketosis dan melebihi 3,0 mmol/L indikasi adanya KAD.
Pengukuran kadar glukosa darah dan benda keton secara mandiri, dapat
mencegah terjadinya penyulit akut diabetes, khususnya KAD.
II.4.5. Kriteria pengendalian DM
Untuk dapat mencegah terjadinya komplikasi kronik, diperlukan
pengendalian DM yang baik yang merupakan sasaran terapi. Diabetes
terkendali baik, apabila kadar glukosa darah mencapai kadar yang diharapkan
serta kadar lipid dan A1C juga mencapai kadar yang diharapkan. Demikian
pula status gizi dan tekanan darah. Kriteria keberhasilan pengendalian
DM dapat dilihat pada Tabel 7.
*ADA menganjurkan pemeriksaan kadar glukosa darah malam hari (bed time) dilakukan pada jam 22.00.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 27
Untuk pasien berumur lebih dari 60 tahun dengan komplikasi, sasaran
kendali kadar glukosa darah dapat lebih tinggi dari biasa (puasa 100-125
mg/dL, dan sesudah makan 145-180 mg/dL). Demikian pula kadar lipid,
tekanan darah, dan lain-lain, mengacu pada batasan kriteria pengendalian
sedang. Hal ini dilakukan mengingat sifat-sifat khusus pasien usia lanjut dan
juga untuk mencegah kemungkinan timbulnya efek samping hipoglikemia
dan interaksi obat.
II.5. Promosi Perilaku Sehat
Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan
kesehatan. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan
perubahan perilaku. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk pengetahuan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
dan peningkatan motivasi. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik melalui dukungan
tim penyuluh yang terdiri dari dokter, ahli diet, perawat, dan tenaga kesehatan lain.
II.5.1. Perilaku sehat bagi penyandang diabetes
Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat
menjalani pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah:
q Mengikuti pola makan sehat
q Meningkatkan kegiatan jasmani
q Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus
secara aman, teratur
q Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan
memanfaatkan data yang ada
q Melakukan perawatan kaki secara berkala
q Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan
sakit akut dengan tepat
q Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana,
dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes
serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang
diabetes.
q Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
II.5.2. Edukasi perubahan perilaku (oleh Tim Edukator Diabetes)
Dalam menjalankan tugasnya, tenaga kesehatan memerlukan landasan
empati, yaitu kemampuan memahami apa yang dirasakan oleh orang
lain.
Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah:
q Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari
terjadinya kecemasan
q Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal
yang sederhana
q Lakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan
simulasi
q Diskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan
keinginan pasien. Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap
tentang program pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan
diskusikan hasil pemeriksaan laboratorium
q Lakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat
diterima
q Berikan motivasi dengan memberikan penghargaan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 29
q Libatkan keluarga/ pendamping dalam proses edukasi
q Perhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan
pasien dan keluarganya
q Gunakan alat bantu audio visual
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan
sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang
sangat penting dari pengelolaan DM secara holistik.
Materi edukasi terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi
edukasi tingkat lanjutan. Edukasi yang diberikan kepada pasien meliputi
pemahaman tentang:
Materi edukasi pada tingkat awal adalah:
q Perjalanan penyakit DM
q Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
q Penyulit DM dan risikonya
q Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target
perawatan
q Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat hipoglikemik
oral atau insulin serta obat-obatan lain
q Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa
darah atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah
mandiri tidak tersedia)
q Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit,
atau hipoglikemia
q Pentingnya latihan jasmani yang teratur
q Masalah khusus yang dihadapi (contoh: hiperglikemia pada
kehamilan)
q Pentingnya perawatan kaki
q Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
Materi edukasi pada tingkat lanjut adalah :
q Mengenal dan mencegah penyulit akut DM
q Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM
q Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain
q Makan di luar rumah
q Rencana untuk kegiatan khusus
q Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
tentang DM
q Pemeliharaan/Perawatan kaki (elemen perawatan kaki dapat dilihat
pada tabel 8).
Edukasi dapat dilakukan secara individual dengan pendekatan
berdasarkan penyelesaian masalah. Seperti halnya dengan proses
edukasi, perubahan perilaku memerlukan perencanaan yang baik,
implementasi, evaluasi, dan dokumentasi.
II.6. Penyulit Diabetes Melitus
Dalam perjalanan penyakit DM, dapat terjadi penyulit akut dan menahun
II.6.1. Penyulit akut
1. Ketoasidosis diabetik
2. Hiperosmolar non ketotik
3. Hipoglikemia
Dalam buku konsensus ini hanya dibahas mengenai hipoglikemia,
sedangkan mengenai ketoasidosis diabetik dan hiperosmolar non ketotik
dapat dilihat pada buku Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes Melitus
Tipe 2 (PERKENI 2002).
Hipoglikemia dan cara mengatasinya
q Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah
<60 mg/dL
q Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus
selalu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 31
paling sering disebabkan oleh penggunaan sulfonilurea dan insulin.
Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat berlangsung lama, sehingga
harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan waktu kerja
obat telah habis. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama
untuk pengawasannya (24-72 jam atau lebih, terutama pada pasien
dengan gagal ginjal kronik). Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan
suatu hal yang harus dihindari, mengingat dampaknya yang fatal atau
terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Perbaikan
kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lamban dan memerlukan
pengawasan yang lebih lama.
q Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar, banyak
keringat, gemetar, rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing,
gelisah, kesadaran menurun sampai koma).
q Hipoglikemia harus segera mendapatkan pengelolaan yang
memadai. Diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau
minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20
g melalui intra vena. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa
darah 15 menit setelah pemberian glukosa. Glukagon diberikan
pada pasien dengan hipoglikemia berat
q Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar, sementara dapat diberikan
glukosa 40% intravena terlebih dahulu sebagai tindakan darurat,
sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran.
II.6.2. Penyulit menahun
1. Makroangiopati :
q Pembuluh darah jantung
q Pembuluh darah tepi
Penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes.
Biasanya terjadi dengan gejala tipikal intermittent claudicatio,
meskipun sering tanpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki
merupakan kelainan yang pertama muncul.
q Pembuluh darah otak
2. Mikroangiopati:
q Retinopati diabetik
v Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan
mengurangi risiko dan memberatnya retinopati. Terapi
aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati
q Nefropati diabetik
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
v Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan
mengurangi risiko nefropati
v Pembatasan asupan protein dalam diet (0,8 g/kg BB) juga
akan mengurangi risiko terjadinya nefropati
3. Neuropati
q Yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer,
berupa hilangnya sensasi distal. Berisiko tinggi untuk terjadinya
ulkus kaki dan amputasi.
q Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar
sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari.
q Setelah diagnosis DM ditegakkan, pada setiap pasien perlu
dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati
distal dengan pemeriksaan neurologi sederhana, dengan
monofilamen 10 gram. Dilakukan sedikitnya setiap tahun.
q Apabila diketemukan adanya polineuropati distal, perawatan kaki
yang memadai akan menurunkan risiko amputasi.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 33
q Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan duloxetine,
antidepresan trisiklik atau gabapentin.
q Semua penyandang diabetes yang disertai neuropati perifer
harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk mengurangi
risiko ulkus kaki.
Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali diperlukan kerja sama
dengan bidang/disiplin ilmu lain.
III.1. Pencegahan Primer
III.1.1. Sasaran pencegahan primer:
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang
memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi
untuk mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa.
III.1.1.1. Faktor risiko diabetes
Faktor risiko diabetes sama dengan faktor risiko untuk intoleransi
glukosa yaitu :
q Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi :
v Ras dan etnik
v Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes)
v Umur. Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat
seiring dengan meningkatnya usia. Usia > 45 tahun harus
dilakukan pemeriksaan DM.
v Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau
riwayat pernah menderita DM gestasional (DMG).
v Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg.
Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih
tinggi dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.
q Faktor risiko yang bisa dimodifikasi;
v Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2).
v Kurangnya aktivitas fisik.
v Hipertensi (> 140/90 mmHg).
v Dislipidemia (HDL <> 250 mg/dL)
III. Pencegahan Diabetes Melitus Tipe-2
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
v Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi gula dan
rendah serat akan meningkatkan risiko menderita prediabetes
dan DM tipe-2.
q Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes :
v Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau
keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi insulin
v Penderita sindrom metabolik
Memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa
darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya.
Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, seperti stroke, PJK,
PAD (Peripheral Arterial Diseases).
III.1.1.2. Intoleransi Glukosa
q Intoleransi glukosa merupakan suatu keadaan yang mendahului
timbulnya diabetes. Angka kejadian intoleransi glukosa dilaporkan
terus mengalami peningkatan.
q Istilah ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 2002 oleh
Department of Health and Human Services (DHHS) dan
The American Diabetes Association (ADA). Sebelumnya
istilah untuk menggambarkan keadaan intoleransi glukosa adalah
TGT dan GDPT. Setiap tahun 4-9% orang dengan intoleransi glukosa
akan menjadi diabetes.
q intoleransi glukosa mempunyai risiko timbulnya gangguan
kardiovaskular sebesar satu setengah kali lebih tinggi dibandingkan
orang normal.
q Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan dengan pemeriksaan
TTGO setelah puasa 8 jam. Diagnosis intoleransi glukosa ditegakkan
apabila hasil tes glukosa darah menunjukkan salah satu dari
tersebut di bawah ini :
v Glukosa darah puasa antara 100 – 125 mg/dL
v Glukosa darah 2 jam setelah muatan glukosa ( TTGO ) antara
140-199 mg/dL.
q Pada pasien dengan intoleransi glukosa anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang dilakukan ditujukan untuk mencari faktor risiko yang
dapat dimodifikasi.
III.1.2. Materi pencegahan primer
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 35
III.1.2.1. Penyuluhan ditujukan kepada:
A. Kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan intoleransi
glukosa
Materi penyuluhan meliputi antara lain:
1. Program penurunan berat badan. Pada seseorang yang
mempunyai risiko diabetes dan mempunyai berat badan
lebih, penurunan berat badan merupakan cara utama untuk
menurunkan risiko terkena DM tipe-2 atau intoleransi glukosa.
Beberapa penelitian menunjukkan penurunan berat badan
5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya DM
tipe-2.
2. Diet sehat.
q Dianjurkan diberikan pada setiap orang yang mempunyai
risiko.
q Jumlah asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat
badan ideal.
q Karbohidrat kompleks merupakan pilihan dan diberikan
secara terbagi dan seimbang sehingga tidak menimbulkan
puncak (peak) glukosa darah yang tinggi setelah makan.
q Mengandung sedikit lemak jenuh, dan tinggi serat larut.
3. Latihan jasmani.
q Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali glukosa
darah, mempertahankan atau menurunkan berat badan,
serta dapat meningkatkan kadar kolesterol-HDL.
q Latihan jasmani yang dianjurkan:
v dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan
latihan aerobik sedang (mencapai 50-70% denyut
jantung maksimal), atau 90 menit/minggu dengan
latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung >70%
maksimal). Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 x
aktivitas/minggu.
4. Menghentikan merokok. Merokok merupakan salah satu risiko
timbulnya gangguan kardiovaskular. Meski merokok tidak
berkaitan langsung dengan timbulnya intoleransi glukosa, tetapi
merokok dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari
intoleransi glukosa dan DM tipe-2.
B. Perencana kebijakan kesehatan agar memahami dampak sosio
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
- ekonomi penyakit ini dan pentingnya penyediaan fasilitas yang
memadai dalam upaya pencegahan primer
III.1.2.1. Pengelolaan yang ditujukan untuk:
q Kelompok intoleransi glukosa
q Kelompok dengan risiko (obesitas, hipertensi, dislipidemia, dll.)
1. Pengelolaan Intoleransi glukosa
q Intoleransi glukosa sering berkaitan dengan sindrom metabolik,
yang ditandai dengan adanya obesitas sentral, dislipidemia
(trigliserida yang tinggi dan atau kolesterol HDL rendah), dan
hipertensi
q Sebagian besar penderita intoleransi glukosa dapat diperbaiki
dengan perubahan gaya hidup, menurunkan berat badan,
mengonsumsi diet sehat serta melakukan latihan jasmani yang
cukup dan teratur.
q Hasil penelitian Diabetes Prevention Program menunjukkan
bahwa perubahan gaya hidup lebih efektif untuk mencegah
munculnya DM tipe-2 dibandingkan dengan penggunaan obat
obatan.
q Penurunan berat badan sebesar 5-10% disertai dengan latihan
jasmani teratur mampu mengurangi risiko timbulnya DM tipe-2
sebesar 58%. Sedangkan penggunaan obat (seperti metformin,
tiazolidindion, acarbose) hanya mampu menurunkan risiko
sebesar 31% dan penggunaan berbagai obat tersebut untuk
penanganan intoleransi glukosa masih menjadi kontroversi.
q Bila disertai dengan obesitas, hipertensi dan dislipidemia,
dilakukan pengendalian berat badan, tekanan darah dan profil
lemak sehingga tercapai sasaran yang ditetapkan
2. Pengelolaan berbagai faktor risiko (lihat bab-IV tentang masalah
khusus):
a. obesitas
b. hipertensi
c. dislipidemia.
Skema tentang alur pencegahan primer dapat dilihat pada bagan 4.
III.2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya
penyulit pada pasien yang telah menderita DM. Dilakukan dengan pemberian
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 37
pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan
penyakit DM. Dalam upaya pencegahan sekunder program penyuluhan
memegang peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani
program pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat.
Penyuluhan untuk pencegahan sekunder ditujukan terutama pada pasien
baru. Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang
pada setiap kesempatan pertemuan berikutnya. Materi penyuluhan pada tingkat
pertama dan lanjutan dapat dilihat pada materi edukasi pada bab II.3.3.1 dan
materi tentang edukasi tingkat lanjut, pada bab II.4.2.
Salah satu penyulit DM yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular,
yang merupakan penyebab utama kematian pada penyandang diabetes. Selain
pengobatan terhadap tingginya kadar glukosa darah, pengendalian berat
badan, tekanan darah, profil lipid dalam darah serta pemberian antiplatelet
dapat menurunkan risiko timbulnya kelainan kardiovaskular pada penyandang
diabetes.
Bagan 4. Algoritma pencegahan DM tipe 2
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Dislipidemia pada Diabetes
q Dislipidemia pada penyandang diabetes lebih meningkatkan risiko timbulnya
penyakit kardiovaskular.
q Perlu pemeriksaan profil lipid pada saat diagnosis diabetes ditegakkan.
Pada pasien dewasa pemeriksaan profil lipid sedikitnya dilakukan setahun
sekali dan bila dianggap perlu dapat dilakukan lebih sering. Sedangkan
pada pasien yang pemeriksaan profil lipid menunjukkan hasil yang baik
(LDL<100mg/dl;>50 mg/dL (laki-laki >40 mg/dL, wanita >50 mg/dL);
trigliserid <150 mg/dL), pemeriksaan profil lipid dapat dilakukan 2 tahun
sekali
q Gambaran dislipidemia yang sering didapatkan pada penyandang
diabetes adalah peningkatan kadar trigliserida, dan penurunan kadar
kolesterol HDL, sedangkan kadar kolesterol LDL normal atau sedikit
meningkat.
q Perubahan perilaku yang tertuju pada pengurangan asupan kolesterol dan
penggunaan lemak jenuh serta peningkatan aktivitas fisik terbukti dapat
memperbaiki profil lemak dalam darah
q Dipertimbangkan untuk memberikan terapi farmakologis sedini mungkin bagi
penyandang diabetes yang disertai dislipidemia
q Target terapi:
v Pada pasien DM, target utamanya adalah penurunan LDL
• Pada penyandang diabetes tanpa disertai penyakit kardiovaskular:
- LDL <100 mg/dL (2,6 mmol/L)
- Pasien dengan usia >40 tahun, dianjurkan diberi terapi statin
untuk menurunkan LDL sebesar 30-40% dari kadar awal.
- Pasien dengan usia <40 tahun dengan risiko penyakit kardiovaskular
yang gagal dengan perubahan gaya hidup, dapat
diberikan terapi farmakologis
• Pada pasien DM dengan penyakit Acute Coronary Syndrome
(ACS):
- LDL <70 mg/dL (1,8 mmol/L)
- semua pasien diberikan terapi statin untuk menurunkan LDL
sebesar 30-40%.
v trigliserida < 150 mg/dL (1,7 mmol/L)
v HDL > 40 mg/dL (1,15 mmol/L) untuk pria dan >50 mg/dL untuk wanita
q Setelah target LDL terpenuhi, jika trigliserida ≥ 150 mg/dL (1,7 mmol/L) atau
HDL ≤ 40 mg/dL (1,15 mmol/L) dapat diberikan niasin atau fibrat
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 39
q Apabila trigliserida ≥ 400 mg/dL (4,51 mmol/L) perlu segera diturunkan
dengan terapi farmakologis untuk mencegah timbulnya pankreatitis.
q Terapi kombinasi statin dengan obat pengendali lemak yang lain mungkin
diperlukan untuk mencapai target terapi, dengan memperhatikan peningkatan
risiko timbulnya efek samping
q Niasin merupakan obat yang efektif untuk meningkatkan HDL, namun pada
dosis besar dapat meningkatkan kadar glukosa darah
q Pada wanita hamil penggunaan statin merupakan kontra indikasi
q Selanjutnya dapat dilihat pada buku Konsensus Pengelolaan Dislipidemia
pada DM
Hipertensi pada Diabetes
q Indikasi pengobatan :
v Bila TD sistolik >130 mmHg dan/atau TD diastolik >80 mmHg.
q Sasaran (target penurunan) tekanan darah:
v Tekanan darah <130/80 mmHg
v Bila disertai proteinuria ≥ 1g/24 jam : < 125/75 mmHg
q Pengelolaan:
v Non-farmakologis:
Modifikasi gaya hidup, antara lain: menurunkan berat badan, meningkatkan
aktivitas fisik, menghentikan merokok dan alkohol, serta mengurangi
konsumsi garam
v Farmakologis:
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih obat anti-hipertensi
(OAH):
- Pengaruh OAH terhadap profil lipid
- Pengaruh OAH terhadap metabolisme glukosa
- Pengaruh OAH terhadap resistensi insulin
- Pengaruh OAH terhadap hipoglikemia terselubung
Obat anti hipertensi yang dapat dipergunakan:
- Penghambat ACE
- Penyekat reseptor angiotensin II
- Penyekat reseptor beta selektif, dosis rendah
- Diuretik dosis rendah
- Penghambat reseptor alfa
- Antagonis kalsium
q Pada pasien dengan tekanan darah sistolik antara 130-139 mmHg atau
tekanan diastolik antara 80-89 mmHg diharuskan melakukan perubahan
gaya hidup sampai 3 bulan. Bila gagal mencapai target dapat ditambahkan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
terapi farmakologis
q Pasien dengan tekanan darah sistolik >140 atau tekanan diastolik >90
mmHg, dapat diberikan terapi farmakologis secara langsung
q Diberikan terapi kombinasi apabila target terapi tidak dapat dicapai dengan
monoterapi.
v Catatan
- Penghambat ACE, penyekat reseptor angiotensin II (ARB =
angiotensin II receptor blocker) dan antagonis kalsium golongan
non-dihidropiridin dapat memperbaiki mikroalbuminuria.
- Penghambat ACE dapat memperbaiki kinerja kardiovaskular.
- Diuretik (HCT) dosis rendah jangka panjang, tidak terbukti
memperburuk toleransi glukosa.
- Pengobatan hipertensi harus diteruskan walaupun sasaran sudah
tercapai.
- Bila tekanan darah terkendali, setelah satu tahun dapat dicoba
menurunkan dosis secara bertahap.
- Pada orang tua, tekanan darah diturunkan secara bertahap
Obesitas pada Diabetes
q Prevalensi obesitas pada DM cukup tinggi, demikian pula kejadian DM dan
gangguan toleransi glukosa pada obesitas cukup sering dijumpai
q Obesitas, terutama obesitas sentral secara bermakna berhubungan dengan
sindrom dismetabolik (dislipidemia, hiperglikemia, hipertensi), yang didasari
oleh resistensi insulin
q Resistensi insulin pada diabetes dengan obesitas membutuhkan pendekatan
khusus
q Obesitas dan diabetes meningkatkan risiko kematian akibat PJK
q Penurunan 5-10 % dari berat badan dapat memperbaiki sindrom dismetabolik
dan menurunkan risiko PJK secara bermakna
q Pengelolaan obesitas terutama ditujukan pada perubahan perilaku pola
makan dan peningkatan kegiatan jasmani. Apabila tidak cukup, maka
pendekatan farmakoterapi (misalnya sibutramine dan orlistat) atau terapi
bedah, dapat merupakan pilihan.
Gangguan koagulasi pada Diabetes
q Terapi aspirin 75-160 mg/hari diberikan sebagai strategi pencegahan sekunder
bagi penyandang diabetes dengan riwayat pernah mengalami penyakit
kardiovaskular dan yang mempunyai risiko kardiovaskular lain.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 41
q Terapi aspirin 75-160 mg/hari digunakan sebagai strategi pencegahan
primer pada penyandang diabetes tipe-2 yang merupakan faktor risiko
kardiovaskular, termasuk pasien dengan usia >40 tahun yang memiliki
riwayat keluarga penyakit kardiovaskular dan kebiasaan merokok, menderita
hipertensi, dislipidemia, atau albuminuria
q Aspirin dianjurkan tidak diberikan pada pasien dengan usia di bawah 21
tahun, seiring dengan peningkatan kejadian sindrom Reye
q Terapi kombinasi aspirin dengan antiplatelet lain dapat dipertimbangkan
pemberiannya pada pasien yang memiliki risiko yang sangat tinggi.
q Penggunaan obat antiplatelet selain aspirin dapat dipertimbangkan sebagai
pengganti aspirin pada pasien yang mempunyai kontra indikasi dan atau
tidak tahan terhadap penggunaan aspirin.
III..3. Pencegahan Tersier
q Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang
diabetes yang telah mengalami penyulit dalam upaya mencegah
terjadinya kecacatan lebih lanjut.
q Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum
kecacatan menetap. Sebagai contoh aspirin dosis rendah
(80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi penyandang
diabetes yang sudah mempunyai penyulit makroangiopati.
q Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
pada pasien dan keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya
rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk mencapai kualitas hidup
yang optimal.
Pencegahan tersier memerlukan pelayanan kesehatan holistik dan
terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit rujukan.
Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin (jantung dan
ginjal, mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medis,
gizi, podiatrist, dll.) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan
pencegahan tersier.
IV.1. Diabetes dengan Infeksi
q Adanya infeksi pada pasien sangat berpengaruh terhadap pengendalian
glukosa darah. Infeksi dapat memperburuk kendali glukosa darah, dan kadar
glukosa darah yang tinggi meningkatkan kemudahan atau memperburuk
infeksi.
q Infeksi yang banyak terjadi antara lain:
v infeksi saluran kemih (ISK)
v infeksi saluran nafas: pneumonia, TB Paru
v infeksi kulit: furunkel, abses
v infeksi rongga mulut: infeksi gigi dan gusi
v infeksi telinga: otitis eksterna maligna
q ISK merupakan infeksi yang sering terjadi dan lebih sulit dikendalikan.
Dapat mengakibatkan terjadinya pielonefritis dan septikemia. Kuman
penyebab yang sering menimbulkan infeksi adalah: Escherichia coli
dan Klebsiella. Infeksi jamur spesies candida dapat menyebabkan sistitis
dan abses renal. Pruritus vagina adalah manifestasi yang sering terjadi
akibat infeksi jamur vagina.
q Pneumonia pada diabetes biasanya disebabkan oleh: streptokokus,
stafilokokus, dan bakteri batang gram negatif. Infeksi jamur pada pernapasan
oleh aspergillosis, dan mucormycosis juga sering terjadi.
q Penyandang diabetes lebih rentan terjangkit TBC paru. Pemeriksaan
rontgen dada, memperlihatkan pada 70% penyandang diabetes terdapat
lesi paru-paru bawah dan kavitasi. Pada penyandang diabetes juga sering
disertai dengan adanya resistensi obat-obat Tuberkulosis.
q Kulit pada daerah ekstremitas bawah merupakan tempat yang sering
mengalami infeksi. Kuman stafilokokus merupakan kuman penyebab utama.
Ulkus kaki terinfeksi biasanya melibatkan banyak mikro organisme, yang
IV. Masalah-Masalah Khusus
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 43
sering terlibat adalah stafilokokus, streptokokus, batang gram negatif
dan kuman anaerob.
q Angka kejadian periodontitis meningkat pada penyandang diabetes dan
sering mengakibatkan tanggalnya gigi. Menjaga kebersihan rongga mulut
dengan baik merupakan hal yang penting untuk mencegah komplikasi
rongga mulut.
q Pada penyandang diabetes, otitis eksterna maligna sering kali tidak terdeteksi
sebagai penyebab infeksi.
Prinsip-prinsip perawatan ulkus kaki diabetes dapat dilihat pada tabel 9.
IV.2. Diabetes dengan Nefropati Diabetik
q Sekitar 20-40% penyandang diabetes akan mengalami nefropati diabetik
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
q Didapatkannya albuminuria persisten pada kisaran 30-299 mg/24 jam
(albuminuria mikro) merupakan tanda dini nefropati diabetik
q Pasien yang disertai dengan albuminuria mikro dan berubah menjadi
albuminuria makro ( > 300 mg/24 jam), pada akhirnya sering berlanjut
menjadi gagal ginjal kronik stadium akhir. Klasifikasi albuminuria dapat
dilihat pada tabel 10.
Diagnosis
Diagnosis nefropati diabetik ditegakkan jika didapatkan kadar albumin > 30 mg
dalam urin 24 jam pada 2 dari 3 kali pemeriksaan dalam kurun waktu 3- 6 bulan,
tanpa penyebab albuminuria lainnya.
Penapisan
q Pada DM tipe 2 pada saat awal diagnosis
q Jika mikroalbuminaria negatif, dilakukan evaluasi ulang setiap tahun
Metode Pemeriksaan
q Rasio albumin/kreatinin dengan urin sewaktu
q Kadar albumin dalam urin 24 jam
q Micral test untuk mikroalbuminuria
q Dipstik/reagen tablet untuk makroalbuminuria
q Urin dalam waktu tertentu (4 jam atau urin semalam)
Penatalaksanaan
q Kendalikan glukosa darah
q Kendalikan tekanan darah
q Diet protein 0,8 gram/kg BB per hari. Jika terjadi penurunan fungsi ginjal yang
bertambah berat, diet protein diberikan 0,6 – 0,8 gram/kg BB per hari.
q Terapi dengan obat penyekat reseptor angiotensin II, penghambat ACE,
atau kombinasi keduanya
q Jika terdapat kontraindikasi terhadap penyekat ACE atau reseptor
angiotensin, dapat diberikan antagonis kalsium non dihidropiridin.
q Apabila serum kreatinin ≥ 2,0 mg/dL sebaiknya ahli nefrologi ikut dilibatkan
q Idealnya bila klirens kreatinin < 15 mL/menit sudah merupakan indikasi terapi
pengganti (dialisis, transplantasi).
IV.3. Diabetes dengan Disfungsi Ereksi (DE)
q Prevalensi DE pada penyandang diabetes tipe 2 lebih dari 10 tahun cukup
tinggi dan merupakan akibat adanya neuropati autonom, angiopati dan
problem psikis.
q DE sering menjadi sumber kecemasan penyandang diabetes, tetapi jarang
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 45
disampaikan kepada dokter oleh karena itu perlu ditanyakan pada saat
konsultasi.
q Pengelolaan DE pada diabetes dapat mengacu pada Penatalaksanaan
Disfungsi Ereksi (Materi Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan, IDI ,
1999).
q DE dapat didiagnosis dengan menggunakan instrumen sederhana yaitu
kuesioner IIEF5 (International Index of Erectile Function 5).
q Upaya pengobatan utama adalah memperbaiki kontrol glukosa darah
senormal mungkin dan memperbaiki faktor risiko DE lain seperti dislipidemia,
merokok, obesitas dan hipertensi.
q Perlu diidentifikasi berbagai obat yang dikonsumsi pasien yang berpengaruh
terhadap timbulnya atau memberatnya DE.
q Pengobatan lini pertama ialah terapi psikoseksual dan obat oral antara
lain sildenafil dan vardenafil.
IV.4. Diabetes dengan Kehamilan / Diabetes Melitus Gestasional
q Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi
karbohidrat (TGT, GDPT, DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada
saat kehamilan sedang berlangsung.
q Penilaian adanya risiko DMG perlu dilakukan sejak kunjungan pertama
untuk pemeriksaan kehamilannya
q Faktor risiko DMG antara lain: obesitas, adanya riwayat pernah mengalami
DMG, glukosuria, adanya riwayat keluarga dengan diabetes, abortus berulang,
adanya riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau melahirkan bayi
dengan berat > 4000 gram, dan adanya riwayat preeklamsia.
q Pada pasien dengan risiko DMG yang jelas perlu segera dilakukan
pemeriksaan glukosa darah. Bila didapat hasil glukosa darah sewaktu
≥ 200 mg/dL atau glukosa darah puasa ≥126 mg/dL yang sesuai dengan
batas diagnosis untuk diabetes, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada
waktu yang lain untuk konfirmasi. Pasien hamil dengan TGT dan GDPT
dikelola sebagai DMG.
q Diagnosis berdasarkan hasil pemeriksaan TTGO dilakukan dengan
memberikan beban 75 g glukosa setelah berpuasa 8 – 14 jam. Kemudian
dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa, 1 jam dan 2 jam setelah
beban.
q DMG ditegakkan apabila ditemukan hasil pemeriksaan glukosa darah puasa
≥ 95 mg/dL, 1 jam setelah beban ≥ 180 mg/dL dan 2 jam setelah beban
≥ 155 mg/dL. Apabila hanya dapat dilakukan 1 kali pemeriksaan glukosa
darah maka lakukan pemeriksaan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan,
bila didapatkan hasil glukosa darah ≥ 155 mg/dL, sudah dapat didiagnosis
sebagai DMG.
q Hasil pemeriksaan TTGO ini dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
DM pada ibu nantinya.
q Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh
spesialis penyakit dalam, spesialis obstetri ginekologi, ahli diet dan
spesialis anak.
q Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian
ibu, kesakitan dan kematian perinatal. Ini hanya dapat dicapai apabila
keadaan normoglikemia dapat dipertahankan selama kehamilan sampai
persalinan.
q Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar glukosa darah puasa ≤ 95
mg/dL dan 2 jam sesudah makan ≤ 120 mg/dL. Apabila sasaran kadar
glukosa darah tidak tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani,
langsung diberikan insulin.
IV.5. Diabetes dengan Ibadah Puasa
q Penyandang diabetes yang terkendali dengan pengaturan makan saja tidak
akan mengalami kesulitan untuk berpuasa. Selama berpuasa Ramadhan,
perlu dicermati adanya perubahan jadwal, jumlah dan komposisi asupan
makanan.
q Penyandang diabetes usia lanjut mempunyai kecenderungan dehidrasi bila
berpuasa, oleh karena itu dianjurkan minum yang cukup.
q Perlu peningkatan kewaspadaan pasien terhadap gejala-gejala hipoglikemia.
Untuk menghindarkan terjadinya hipoglikemia pada siang hari, dianjurkan
jadwal makan sahur mendekati waktu imsak/subuh, kurangi aktivitas fisik
pada siang hari dan bila beraktivitas fisik dianjurkan pada sore hari.
q Penyandang diabetes yang cukup terkendali dengan OHO dosis tunggal,
juga tidak mengalami kesulitan untuk berpuasa. OHO diberikan saat
berbuka puasa. Hati-hati terhadap terjadinya hipoglikemia pada pasien yang
mendapat OHO dengan dosis maksimal.
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 47
q Bagi yang terkendali dengan OHO dosis terbagi, pengaturan dosis obat
diberikan sedemikian rupa sehingga dosis sebelum berbuka lebih besar
dari pada dosis sahur.
q Untuk penyandang diabetes DM tipe 2 yang menggunakan insulin, dipakai
insulin kerja menengah yang diberikan saat berbuka saja.
q Diperlukan kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap terjadinya hipoglikemia
pada penyandang diabetes pengguna insulin. Perlu pemantauan yang lebih
ketat disertai penyesuaian dosis dan jadwal suntikan insulin. Bila terjadi
gejala hipoglikemia, puasa dihentikan.
q Untuk pasien yang harus menggunakan insulin dosis multipel dianjurkan
untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan.
q Sebaiknya momentum puasa Ramadhan ini digunakan untuk lebih
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
meningkatkan pengetahuan dan ketaatan berobat para penyandang
diabetes. Dengan berpuasa Ramadhan diharapkan adanya perubahan
psikologis yang menciptakan rasa lebih sehat bagi penyandang diabetes.
IV.6. Diabetes pada Pengelolaan Perioperatif
q Tindakan operasi, khususnya dengan anestesi umum merupakan faktor stres
pemicu terjadinya penyulit akut diabetes, oleh karena itu setiap operasi elektif
pada penyandang diabetes harus dipersiapkan seoptimal mungkin (sasaran
kadar glukosa darah puasa ≤150 mg/dL, PERKENI 2002)
q Persiapan operasi elektif maupun non-elektif dapat dilihat pada pedoman
terapi insulin di rumah sakit.
Diabetes melitus memang merupakan penyakit metabolik yang dapat menimbulkan
V. Penutup
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 49
berbagai komplikasi yang tentunya akan mempengaruhi kualitas hidup penyandangnya
sehingga perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Sampai saat ini memang
belum ditemukan cara atau pengobatan yang dapat menyembuhkannya diabetes secara
total. Namun harus diingat Diabetes dapat dikendalikan, dengan cara : diet, olahraga
dan dengan menggunakan obat antidiabetik. Pengobatan Diabetes ini sangat spesifik
dan individual untuk masing-masing pasien. Modifikasi gaya hidup sangat penting untuk
dilakukan, tidak hanya untuk mengontrol kadar glukosa darah namun bila diterapkan
secara umum diharapkan dapat menurunkan prevalensi Diabetes melitus baik di
Indonesia maupun di dunia di masa yang akan datang. Akhirnya, sekali lagi diharapkan
semoga buku ini dapat benar-benar bermanfaat bagi para praktisi yang bertugas
menangani para penyandang diabetes.
1. American Diabetes Association. Medical Management of Type 2 Diabetes. ADA
Clinical Series. American Diabetes Association. 1998.
2. American Diabetes Association. Supplement 1 American Diabetes Association:
Clinical Practise Recommendations 2006. Diab Care. 2006;29 (Suppl.1).
3. American Diabetes Association. Lebovitz HE (ed). Therapy for Diabetes Mellitus
and related disorder. 4th ed. ADA Inc, USA. 2004.
4. American Diabetes Association. ADA position statement: standard of medical
care in diabetes-2006. Diab Care. 2005;29(suppl. 1):S4-S42.
5. American Diabetes Association. Supplement 1 American Diabetes Association:
Clinical Practise Recommendations 2007. Diab Care. 2007;30(Suppl.1).
6. American Association of Clinical Endocrinologists and American College of
Endocrinology. The American Association of Clinical Endocrinologists medical
guidelines for the management of Diabetes Mellitus: the AACE system of
intensive diabetes self-management-2002 Update. Endo Practice. 2002;8(suppl.
1):40-82.
7. Asdie AH. Patogenesis dan Terapi Diabetes Melitus Tipe 2. Medika FK UGM,
Yogyakarta. 2000.
8. Asia-Pasific Type 2 Diabetes Policy Group Type 2 Diabetes Practical Target
Treatments. Health Communication Australia. 2002.
9. Asia-Pasific Type 2 Diabetes policy Group. Type 2 Diabetes practical targets
and treatments. 4 ed. In Vivo Communications (Asia) Pte Limited, Singapore.
2005
10. European Diabetes Policy Group. Guidelines for Diabetes Care, a Desktop
Daftar Pustaka
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Guide toType 2 Diabetes Mellitus. International Diabetes Federation European
Region. 1998-1999.
11. Gill GV, Alberti KGMM. The care of the diabetic patient during surgery. In:
DeFronzo RA, Feranini E, Keen H, Zimmet P (eds). International Textbook of
Diabetes Mellitus.3rd Ed. Chichester: John Wiley, 2004: 1741-54.
12. International Diabetes Federation (IDF). Diabetes Atlas 2003. International
Diabetes Federation (IDF). Belgium. 2004.
13. International Diabetes Federation. IDF Clinical Guidelines Task Force. Global
guideline for Type 2 diabetes. Brussels. 2005.
14. International Diabetes Institute.Health Communication. The Asia Pasific Perspective:
Redefining Obesity and its Treatment. International Diabetes Institute.Health
Communication Australia Pty Limited. 2000.
15. Koziel H, Koziel MJ. Pulmonary complications of diabetes mellitus. Pneumonia.
Infect Dis Clin North Am. 1995;9:65-9.
16. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus
di Indonesia, PB. PERKENI. Jakarta 1998.
17. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Petunjuk Praktis Pengelolaan Diabetes
Melitus Tipe 2. PB PERKENI Jakarta. Editor: S. Soegondo, P.Soewondo, I.
Subekti dkk. PB. PERKENI. Jakarta 2002.
18. Ponce-de-Leon A, Garcia-Garcia M de L, Garcia-Sancho MC et al. Tuberculosis
and diabetes in Southern Mexico. Diab Care. 2004;27:1584-90.
19. Pusat Diabetes dan Nutrisi RSUD. Dr. Soetomo/FK UNAIR. From Children to
the Elderly from Adipocytokines-Mediators to the Promising Management of
obesity. Naskahlengkap National Obesity Symposium I, 2002. Editor: Editor
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 51
LAMPIRAN : 1
I. Sumber karbohidrat dikonsumsi 3-7 porsi/penukar sehari (tergantung status
gizi).
II. Sumber vitamin dan mineral: sayuran 2-3 porsi/penukar, buah 2-4
porsi/penukar sehari.
III. Sumber protein: lauk hewani 3 porsi/penukar, lauk nabati 2-3 porsi/penukar
sehari.
Batasi konsumsi gula, lemak / minyak dan garam.
III
II
I
Lampiran
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
LAMPIRAN : 2
Obat Hipoglikemik Oral
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 53
LAMPIRAN : 3
Farmakokinetik insulin eksogen berdasar waktu kerja (time
course of action)
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Beberapa Alternatif Farmakoterapi untuk Penyulit Diabetes
LAMPIRAN : 4
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 55
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
DAFTAR NAMA PENANDATANGAN
KONSENSUS PENGELOLAAN DAN PENCEGAHAN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INDONESIA 2006
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006 57
Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
Aventis Pharma
Abbott Indonesia
Bayer Indonesia
Boehringer Ingelheim
Dexa Medica
Eli Lilly Indonesia
Ferron Par Pharmaceuticals
Otsuka Indonesia
GlaxoSmithKline
Kalbe Farma
Lapi Laboratories
Merck Indonesia
Novartis Biochemie
Novo Nordisk
Pzer Indonesia
Servier Indonesia
Takeda Indonesia
DAFTAR PERUSAHAAN FARMASI PENUNJANG
KONSENSUS PENGELOLAAN DAN PENCEGAHAN
DIABETES MELITUS TIPE 2 DI INDONESIA 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar